Breaking

Kamis, 05 April 2018

UMKM Berkembang Setelah Menjadi Mitra Royal Golden Eagle

Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan menjalankan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, hanya sedikit yang mampu berkembang menjadi lebih baik. Atas dasar ini, Royal Golden Eagle (RGE) menjadikan sejumlah UMKM sebagai mitra supaya bisa tumbuh membesar.

Source: Tribun Pekanbaru

Royal Golden Eagle rupanya tahu persis arti UMKM bagi perekonomian bangsa Indonesia. UMKM ternyata tidak bisa disepelekan. Meski masih berskala kecil, justru mereka yang tahan terhadap krisis global yang menerpa.

Menurut data yang dipaparkan oleh Tribunnews, sebanyak 80 persen usaha di ASEAN masih berstatus sebagai UMKM. Namun, justru mereka yang menggerakkan fundamental ekonomi. Pasalnya, kebanyakan menggunakan bahan baku lokal sehingga krisis di level dunia tidak memengaruhi kinerja.

Akibatnya sangat positif. Ketika usaha besar terkena krisis, UMKM bagaikan oasis di padang pasir. Mereka bisa menyerap tenaga kerja yang mampu menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat.

Oleh karena itu, RGE tidak ragu untuk mengembangkan UMKM. Kebetulan langkah tersebut selaras dengan prinsip kerja perusahaan. Grup bisnis yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini memang ingin memberi manfaat kepada pihak lain selain terhadap internal perusahaan. Mereka bertekad untuk berguna bagi masyarakat, negara, hingga berpartisipasi aktif dalam menjaga keseimbangan iklim.

Ada sejumlah langkah nyata yang diambil oleh anak perusahaan Royal Golden Eagle. Salah satunya yang dilakukan oleh PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Mereka ternyata menggandeng sejumlah UMKM untuk menjadi mitra kerja perusahaan.

Contohnya adalah Sulaiman. Warga asal Pangkalan Kerinci di Provinsi Riau ini sanggup membesarkan PT Rifky Pratama Sanjaya. Penyebabnya adalah kesempatan dari anak usaha RGE yang bergerak dalam bidang pulp and paper, RAPP.

RAPP membuka kesempatan kepada perusahaan Sulaiman untuk menyuplai bahan media tanam pohon akasia. Patut diketahui, produksi pulp and paper memerlukan kayu sebagai bahan baku bubur kertas. Royal Golden Eagle akhirnya membuat perkebunan sendiri sebagai suplai. Pohon akasia yang dipilih karena cepat dipanen dan memiliki kualitas yang baik.

Dalam menumbuhkan perkebunan akasia, diperlukan pembibitan yang baik. Media tanam sangat berpengaruh. Dibutuhkan bahan yang cocok agar bibit akasia kuat dan sehat.

Penelitian akhirnya menemukan bahwa arang sekam dan sabut kelapa yang menjadi media tanam terbaik bagi akasia. Inilah yang akhirnya disuplai oleh mitra kerja RAPP, termasuk Sulaiman.

“Usaha saya saat ini memasok arang sekam dan cocopeat sebagai media tanam bibit akasia,” ujar Sulaiman seperti dikutip dari Tribun Pekanbaru.
   
Akan tetapi, semuanya berubah setelah ia menjadi mitra RAPP. Berkat bimbingan dari anak perusahaan Royal Golden Eagle itu, Sulaiman diajari membuat arang sekam dan cocopeat. Selain itu, ia pun diberi kemudahan untuk permodalan. Itu belum cukup. Setelah mampu memproduksi, Sulaiman diberi kesempatan untuk menjualnya ke perusahaan.

Buahnya sangat positif. Sulaiman merasakan perubahan dalam kehidupannya yang menjadi lebih baik. Kini, ia mampu membuka lapangan kerja bagi sekitar 25 orang.

Bukan hanya Sulaiman yang merasakan manfaat positif menjadi mitra binaan perusahaan RGE. Warga Pangkalan Kerinci lain, Jufri, mengaku merasakan hal serupa.

Sejak tahun 2000, Jufri telah menjadi partner kerja RAPP. Ia menjalankan beragam jenis usaha untuk kebutuhan operasional perusahaan. Jufri mengelola usaha transportasi untuk membantu lini bisnis RGE. Belakangan ia pun merambah ke dalam usaha penyediaan media tanam bibit akasia.

Jufri melihat peluang besar di sana. Ia tahu bahwa perusahaan Royal Golden Eagle membutuhkan suplai media tanam akasia hingga 150 ton per bulan. Jelas itu merupakan peluang bisnis yang tidak bisa disia-siakan. Oleh karena itu, sejak 2010, Jufri segera memproduksi media tanam bibit akasia untuk dujual ke RAPP.

Selain membuka kesempatan untuk menjual, RAPP juga mengajari Jufri dalam proses pembuatan. Dalam hal ini, anak usaha Royal Golden Eagle ini mempraktikkan prinsip kerja lain, yakni menjaga lingkungan. Hal ini dikarenakan mereka meminta produsen media tanam seperti Jufri untuk memanfaatkan limbah seperti sekam padi yang biasanya hanya dibuang.

"Bisnis arang sekam inilah yang saya rasa paling nyaman karena lebih sederhana. Orang lain mungkin melihat bahan bakunya tidak berguna, atau paling tidak dibakar atau hanya dijadikan sebagai bahan abu gosok,”ujar Jufri di Tribun Pekanbaru.

Kini Jufri mampu memasok 30 ton arang sekam ke anak perusahaan Royal Golden Eagle setiap bulan. Bukan hanya itu, ia pun sanggup mempekerjakan sekitar 22 orang karyawan.

BERAGAM KEMUDAHAN UNTUK UMKM


Source: Inside RGE

Royal Golden Eagle memang berbeda dibanding perusahaan lain. Mereka tidak hanya mementingkan profit belaka. Perusahaan yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini ingin pihaknya mampu memberi dampak positif kepada pihak lain seperti masyarakat sekitar.

Program UMKM sebagai mitra binaan yang dibuat RAPP menjadi contoh nyata. Mereka menggandeng UMKM untuk menjadi partner. Selama itu, UMKM diajari beragam cara untuk membuat produk bermanfaat. Bersamaan dengan itu, perusahaan yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini juga melatih manajemen yang baik. Ini penting supaya UMKM mampu mengelola usahanya secara mandiri dan profesional.

Di antara kemudahan yang diberikan tersebut, permodalan yang kerap menjadi kendala bagi UMKM menjadi yang menonjol. Royal Golden Eagle memudahkan akses UMKM ke perbankan. Caranya ialah dengan membuatkan Purchose Order yang dapat dijadikan sebagai jaminan untuk bank. Hal ini sangat diperlukan oleh UMKM.

Sesudahnya, RGE membuka pintu seluas-luasnya kepada UMKM untuk menyalurkan produk dan jasanya kepada perusahaan. Banyak segi yang mereka masuki. Beberapa di antaranya adalah kontraktor palet, penyedia tenaga kerja, sarana transportasi, water tank, nursery, hingga penanaman dan pemanenan tanaman industri.

Menurut Manajer Community Develpoment (CD) RAPP, Sundari Berlian, hingga Oktober 2016, sudah ada 177 UMKM yang menjadi mitra binaan. Keberadaan mereka tidak dapat disepelekan. Manfaatnya sungguh besar bagi roda perekonomian di daerahnya masing-masing. Contoh paling sederhana adalah kemampuannya membuka lapangan kerja.

"Dari 177 mitra binaan RAPP, tenaga kerja yang diserap mencapai sekitar 3.300 orang,” kata Sundari di Tribun Pekanbaru.

Sebelum menjalankan program mitra binaan seperti ini, Royal Golden Eagle sejatinya sudah membuka kemitraan bagi UMKM. Salah satu hasil nyatanya adalah perusahaan bus SMAF yang didirikan oleh mendiang Yus Herman.

Yus memulai usaha transportasi pada 1992. Saat itu, mengambil putusan besar dengan memulai usaha sendiri dan mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai pegawai negeri.

Kala itu, Yus melihat peluang besar dari keberadaan RAPP di Pangkalan Kerinci. Ia tahu karyawan anak usaha RGE ini butuh sarana transportasi untuk berangkat dan pulang kerja. Maka, ia pun memberanikan diri menyediakan bus sebagai sarananya.

Tidak disangka, usahanya terus berkembang. Berkat kesempatan yang diberikan oleh RAPP, usaha transportasinya maju. Hingga kini, SMAF sudah mengoperasikan 60 bus dan membuka kesempatan kerja untuk 90 orang. Selain itu, revenue yang dihasilkan mencapai Rp14,4 miliar per tahun.

Keberhasilan itu merupakan bukti lain bahwa upaya Royal Golden Eagle dalam memberi manfaat kepada masyarakat telah berhasil. Banyak UMKM yang berkembang menjadi lebih baik setelah menjadi mitra binaan ataupun diajak bekerja sama dengan perusahaan yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox